Jumat, 25 Juni 2010

Dzikir

Alhamdulillah. Dzikir itu ada yang ditentukan jumlahnya dan ada yang tidak ditentukan jumlahnya. Dzikir yang yang ditentukan jumlahnya harus berdasarkan dalil dari Rasulullah. Di antara dizikir yang ditentukan jumlahnya adalah seperti dzikir sehabis shalat: Rasulullah s.a.w. bersabda,

Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah s.a.w. beliau bersabda, “Barangsiapa yang membaca subhanallah setiap selesai shalat 33 x membaca alhamdulillah 33 x, membaca Allahu Akbar 33x hingga menjadi 99. beliau bersabda lalu disempurnakan menjadi seratus dengan Lâ ilâha lillallah wahdahû lâ syarîkalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ala kulli Syaiin qadîr, diampuni dosanya sekalipun seperti buih lautan. (HR. Muslim).

Di samping itu ada juga dzikir yang ditentukan jumlahnya seperti yang disebutkan dalam dalil-dalil berikut ini:

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Barangsiapa membaca: Lâ ilâha lillallah wahdahû lâ syarîkalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ala kulli Syaiin qadîr, dalam sehari seratus kali, maka sama dengan memerdekakan sepuluh hamba sahaya, dituliskan baginya seratus kebaikan, dihapuskan darinya seratus kesalahan. Bacaan tersebut menjadi penghalang baginya dari syetan pada hari itu hingga sore hari. Tidak ada yang menghadirkan yang lebih utama daripada yang dia hadirkan kecuali orang yang lebih banyak membacanya daripadanya.” (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya Rasulullah bersabda, barangsiapa yang membaca subhanallah wabihamdihi pada satu hari seratus kali, dihapuskan kesalahannya sekalipun seperti buih lautan. (HR. Bukhari)

Dari Utsman bin Affan r.a. dia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Tidak ada seorang hamba pun yang membaca setiap pagi dan sore setiap malam: bismillah lâ yadhurruhu ma’asmihi syaiun fil Ardhi wa lâ fis samâ-I wahuwas samîul alîm. Tiga kali maka tidak akan ada yang memudhuaratkannya sesuatu pun.” (HR. Tirmdzi).

Dan masih banyak lagi contoh lain yang menunjukkan beberapa dzikir yang ditentukan jumlahnya, seperti dzikir waktu pagi dan petang (al-Ma’tsurat).

Adapun penetuan jumlah dzikir dengan jumlah hitungan sekian ribu kali, atau sekian puluh ribu kali, dengan harapan bisa kaya, bisa pintar dan sebagainya adalah tidak ada dalilnya, dan perbuatan tersebut dapat dikategorikan sebagai perbuatan bid’ah, karena Rasulullah dan para sahabatnya tidak pernah melakukannya. Wallahu A’lam bishawwab

Oleh; Abdul Muttaqin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Visitor

free counters